Ari-ari Anakku

Ari-ari Anakku

20 Mar 2021
Cerpen

Cerpen Giri Setika

Setiap kali pindah rumah, selalu saja aku disibukkan dengan urusan ari-ari anakku. Dua kali kami pindah rumah, sejumlah itu pula aku harus memindah ari-ari mereka. Menggali tanah di bagian sudut kanan rumah lantas memasukkan kendil terbungkus kain putih dan menguruknya kembali dengan tanah adalah rutinitas yang harus aku lakukan setiap kali menempati rumah yang baru.

Saat anakku lahir, aku tidak begitu peduli dengan segala bentuk ritual berkaitan dengan ari-ari. Begitu pulang dari rumah sakit dengan membawa ari-ari anakku, bapak pemilik kontrakanku rupanya telah menggali dua lubang di sisi kanan rumah yang kami kontrak karena beliau mengira aku bakal menanam dua ari-ari anak kembarku. Sebenarnya aku juga berpikir demikian. Ternyata kami keliru. Anak kembarku yang identik tersebut hanya memiliki satu ari-ari sehingga satu lubang beliau uruk kembali.

Begitu sampai rumah, beliau sudah mempersiapkan segala hal untuk ritual mengubur ari-ari. Kendil dan cobek dari tanah liat beserta beberapa barang sekaligus seorang dukun bayi telah beliau persiapkan. Ribet memang dan sebenarnya aku tidak menginginkannya. Namun aku biarkan saja karena aku menghormatinya.

Dukun bayi yang sudah menungguku segera menyambut ari-ari yang aku bawa dari rumah sakit. Dia terlihat begitu terampil membersihkan ari-ari tersebut. Meskipun di rumah sakit ari-ari tersebut konon sudah dibersihkan oleh suster dan aku tinggal menguburkannya, tetap saja dukun bayi ini membersihkan ari-ari anakku sambil sesekali membaca doa-doa yang tidak begitu aku mengerti. Beberapa bacaan yang dia pakai memang berasal dari ayat-ayat Alquran, tetapi telah bercampur dengan beberapa kalimat berbahasa Jawa yang hanya sedikit yang bisa aku mengerti. 

Ari-ari telah dicuci bersih. Beberapa barang yang konon sebagai syarat antara lain pensil, kertas, dan benang dimasukkan ke dalam kendil. Setelah itu baru disusul dengan ari-ari. Kendil ditutup dengan cobek dan dibungkus dengan kain putih. Aku menyaksikan semua itu dengan saksama. Sebenarnya aku ingin mengubur begitu saja ari-ari anakku. Bahkan, kalau saja boleh orang lain yang mengubur ari-ari, aku ingin orang lain saja yang melakukannya mengingat saat mengubur ari-ari konon mesti mengenakan pakaian tradisional lengkap, yaitu kain jarit lengkap dengan blangkon dan keris. Syukurlah ketika itu aku tidak harus berpakaian tradisional selengkap itu. Cukup memakai kain sarung dipadu dengan kemeja biasa.

Setelah ari-ari dikuburkan, aku merasa lega. Selesai sudah urusanku dengan si ari-ari. Begitu pikirku. Aku berkeyakinan bahwa apa yang berasal dari tanah adalah hak tanah. Dengan dikuburkannya ari-ari anakku, aku merasa sudah mengembalikan sebagian dari diri anak kembarku kepada tanah. Ternyata aku keliru. Bukannya selesai, urusan ari-ari ini malah semakin panjang saja. Ari-ari tersebut harus selalu menyertai anak-anakku di mana pun mereka berada. Sebelum anak-anakku besar, aku tidak boleh membuang ari-ari itu. Begitu kata orang-orang tua di sekitar kami. 

*****

Ketika akan pindah ke lain kota, aku menggali lagi lubang yang sudah hampir berumur setahun itu. Bungkusan kain putih berisi kendil tempat menyimpan ari-ari aku angkat dari dalam tanah. Kain itu masih utuh. Pun halnya dengan kendil yang ada di dalamnya. Juga dengan cobek yang berfungsi sebagai penutup kendil. Akan halnya dengan ari-ari anakku dan segala uba rampe di dalamnya, aku tidak tahu persis karena aku tidak membukanya.

Di kota tujuan, aku menggali lubang di sisi kanan luar rumah kontrakan kami yang baru. Di lubang itulah aku kembali menanam ari-ari anakku. Karena seluruh halaman sudah diperkeras dengan konblok, terpaksa aku mencongkel beberapa buah batu bata dari campuran pasir dan semen tersebut.

Sekitar satu pekan pertama menempati rumah itu, aku dibuat stres oleh perilaku salah satu anakku. Setiap Maghrib tiba, salah satu anakku selalu menangis keras-keras dan baru berhenti menjelang Isya. Ketika itu salah seorang tetanggaku bertanya apakah ari-ari anakku dibawa saat kami pindah rumah. Aku katakan bahwa aku selalu membawa ari-ari anakku ketika kami pindah rumah. Aku kembali bertanya-tanya dalam hati, apa hubungannya anakku yang rewel setiap Maghrib tiba dengan ari-ari?

Mungkin tidak tahan atau kasihan mendengar tangis salah satu anakku setiap Maghrib, tetangga sebelah rumah menyarankan supaya aku mendatangi orang pintar yang ada di kampung itu. Akan tetapi aku tidak melakukannya. Aku coba mencari sendiri penyebab mengapa setiap Maghrib tiba anakku menangis. Sampai suatu hari aku menemukan sebuah bungkusan kecil di atas pintu masuk rumah yang aku kontrak, tersembunyi di balik kusen. Bungkusan itu aku ambil dan kubuka. Isinya secarik kertas bertuliskan rajah berhuruf Arab. Aku hancurkan bungkusan itu dengan cara membakarnya. Aneh. Sejak saat itu anakku tidak pernah rewel. Ternyata itulah biang keladinya, bukan karena ari-ari.

*****

Tiga tahun sudah aku membakar bungkusan yang aku temukan di atas pintu rumah yang kami kontrak. Hari ini aku harus memboyong keluargaku. Kami harus pindah tempat tinggal. Namun, kali ini bukan untuk mengontrak rumah, melainkan pindah ke rumah sendiri. 

Seperti biasa, hal terakhir yang aku lakukan setelah semua barang siap diangkut adalah menggali tanah di salah satu sisi kanan luar rumah. Apa lagi kalau tidak mengambil ari-ari untuk kemudian dikuburkan kembali di sisi kanan luar rumah yang akan kami tempati.

Jantungku berdebar saat mulai menggali tanah yang kutandai. Tepat di bawah tanah itu dulu aku mengubur ari-ari anakku. Aku tahu pasti, aku tak mungkin salah. Tanah yang aku gali adalah tanah tempat dulu aku mengubur ari-ari anakku karena beberapa konblok yang dulu aku congkel telah kuberi tanda dengan cat semprot.

Entah kenapa jantungku kian cepat berdetak. Sebuah perasaan aneh mulai menjalari tubuhku. Sebuah perasaan yang tidak aku rasakan saat menggali ari-ari anakku ketika akan pindah ke kota ini. Semakin dalam menggali, semakin kencang debar jantungku dan semakin kuat perasaan aneh itu mencengkeramku. Perasaan takut bercampur haru. 

Lima belas sentimeter, tiga puluh sentimeter, bahkan hingga empat puluh lima sentimeter aku tak menemukan ari-ari anakku. Aku mulai panik. Lubang yang sudah hampir mencapai setengah meter itu terus kugali. Hingga pada kedalaman sekitar tujuh puluh sentimeter aku berhenti menggali karena tidak menemukan apa-apa.

Tidak mungkin. Tidak mungkin ari-ari itu hilang, bisikku.

Aku mulai menggali lagi. Kali ini aku perlebar diameter lubang yang aku gali dengan mencongkel lagi beberapa buah konblok. Namun aneh, tetap saja ari-ari anakku tidak kutemukan. Padahal diameter dan kedalaman lubang yang telah kugali sudah jauh melebihi diameter dan kedalaman lubang yang dulu aku gali saat mengubur ari-ari sehingga mustahil jika ari-ari itu tidak kutemukan.

Aku berhenti menggali. Terpekur mengamati lubang menganga di hadapanku, tak habis pikir dengan ari-ari anakku yang raib.

Permisi, Pak, suara dari luar pagar mengejutkanku. Aku segera menuju pintu pagar. Sesosok laki-laki usia limapuluhan tahun berdiri di depan pintu.

Bisa pinjam cangkul dan linggis, kata laki-laki itu yang tidak lain adalah tetanggaku.

Oh, bisa. Sebentar saya ambilkan, kataku.

Aku meninggalkan laki-laki itu di luar pagar untuk mengambil cangkul dan linggis yang sebenarnya masih aku gunakan untuk menggali ari-ari anakku.

Tumben cari cangkul dan linggis. Mau berkebun, Pak, kataku.

Tidak. Untuk mengubur ari-ari.

Lho, ibu sudah melahirkan?

Sudah. Kebetulan sama seperti putra Bapak.

Sama? aku terbengong.

Iya. Kembar.

Wah, selamat, Pak.”

Terima kasih

“Omong-omong laki-laki juga?”

“Perempuan.”

Sejurus kemudian, laki-laki itu mohon diri. Aku duduk di teras sembari terus memikirkan ari-ari anakku yang raib dari tempatnya.

*****

Pak. Pak. Mari ke rumah saya. Ada yang aneh. Ada yang aneh, sebuah suara mengejutkanku. Rupanya tetangga yang tadi meminjam cangkul dan linggis.

Aku mendekati pintu pagar.

Ada apa, Pak, tanyaku. 

Ada yang aneh dengan ari-ari anak saya. Mari ke rumah saya. Coba Bapak lihat, kata laki-laki itu.

Tanpa bertanya lagi, aku mengekor di belakangnya.

Ini, Pak. Coba lihat ari-ari anak saya. Ari-ari yang tadi saya bungkus kain putih dan saya masukkan ke sini tiba-tiba berubah, kata laki-laki itu sembari menunjukkan isi kendil yang masih baru yang katanya berisi ari-ari anak kembar perempuannya.

Aku mendekati kendil itu. Jantungku mulai berdegup kencang. Perasaan aneh mulai menjalari tubuhku. Persis perasaan yang aku rasakan saat menggali ari-ari anakku beberapa jam yang lalu.

Mataku terbelalak saat melongok isi kendil. Ari-ari bayi kembar perempuan yang dibungkus kain putih ternyata tak tampak. Hanya gumpalan arang hitam sebesar kepalan tangan yang mengisi kendil itu, juga sebatang pensil yang dililit benang. Aku teringat ari-ari anak kembarku yang lenyap entah ke mana. (*)

Giri Setika, menulis puisi, cerpen dan buku beragam tema, tinggal di Yogyakarta.