Ekonomi Rempah-rempah

Ekonomi Rempah-rempah

10 Feb 2021
Opini

Oleh: Kafi Kurnia, Pakar Pemasaran Indonesia (founder Sembutopia, Peka Consult. Inc)

Indonesia dengan segala kelebihan dan keunikan-nya, selalu memiliki peluang berjaya baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Bagi saya, keunikan ini sifatnya sangat esklusif sehingga menjadikan Indonesia sangat eksotis. Salah satu warisan budaya yang nilainya tak terhingga, adalah fakta bahwa Indonesia pernah menjadi jalur rempah-rempah. Kalau China menjadi jalur sutera, maka Indonesia menjadi jalur rempah-rempah.

Walaupun titik awalnya sangatlah tua, yang mungkin melebihi ratusan tahun hingga ribuan, dan wilayahnya tidak terbatas hanya Nusantara atau Indonesia saja, namun jalur rempah-rempah ini lebih lengket merekat pada Indonesia. Konon, salah satu motivasi Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) bercokol di Indonesia selama 350 tahun, adalah karena bisnis rempah-rempah ini.

Perusahaan Hindia Timur Belanda, VOC, yang dididirikan dengan piagam pada 1602, bertujuan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah dunia. Setelah Portugis menancapkan kuku kolonialnya di Asia, dan memperlihatkan dominasi pada perdagangan rempah-rempah dunia, yang kemudian memudar setelah Spanyol berseteru dengan Portugis pada 1580, maka VOC kemudian diorganisasi untuk mengambil keuntungan dari perdagangan rempah-rempah Asia Timur.

Memanfaatkan situatsi politik itu. VOC kemudian dengan cepat membangun monopoli atas perdagangan internasional di AsiaTimur, terutama Indonesia. Situasi ini memperlihatkan bagaimana strategisnya komoditi rempah-rempah dunia.

Perdagangan rempah-rempah dunia, ditaksir memiliki potensi pasar diatas $ 7 milliar – dengan pertumbuhan 7% setahun hingga 2022. Dan saya pernah mendapat dongeng tentang rempah-rempah ini. Konon, suatu hari petinggi VOC melakukan presentasi di depan ratu Belanda, dengan menyajikan sop yang diberi nama Sop Ratu. Ini adalah sayur Sop yang biasa kita santap sehari-hari, dengan rempah-rempah hanya merica dan biji pala (nutmeg). Singkat cerita sayur sop ini begitu harum dan lezat, sehingga sang Ratu sangat kagum dan terpesona. Padahal itu baru menggunakan dua rempah, yaitu biji pala dan merica. Bayangkan apabila racikan sayur sop menggunakan rempah-rempah yang lebih banyak dan beragam.

Inilah yang membuat jalur rempah-rempah Indonesia sangat strategis sejak abad ke-16 itu, dan dengan sangat sengit diperebutkan banyak negara Eropa. Bukti dan fakta tentang jalur rempah-rempah ini, menurut saya – harus bisa dimanfaatkan sehingga menjadi sebuah keuntungan luar biasa buat Indonesia. Sebuah “positioning” unik dalam bisnis yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain. Malah bisa jadi elemen daya saing yang strategis.

Rempah-rempah ini, dalam ilmu pemasaran, bisa saja dijadikan brand idea dari merek Indonesia secara umum. Karena rempah-rempah menyiratkan keragaman dan sangat eksotis, dan cita rasa yang sangat mewah. Banyak kuliner dari negara-negara lain terbatas rempah-rempahnya – misalnya hanya dengan bumbu seperti garam, gula, merica, bawang putih dan bawang merah plus mungkin tambahan rempah-rempah segar yang terbatas. Beda dengan kuliner Indonesia, misalnya, yang sangat kaya dengan rempah. 

Ada kuliner Indonesia yang dominan menggunakan satu rempah saja, misalnya seperti Rawon yang menggunakan rempah-rempah buah kluwak. Atau pepes yang menggunakan sejumlah rempah-rempah segar yang beragam.  Dan gulai  yang menggunakan sejumlah rempah-rempah sangat beragam yang kompleks.

Nah, kuliner Indonesia yang memiliki kekayaan rempah ini, bisa menjadi brand experience yang sangat unik tentang Indonesia. Ketika artikel ini mau saya tulis, seorang Chef mendongeng kepada saya tentang “misteri nasi goreng” ala Indonesia.

Menurutnya, nasi goreng adalah salah satu sajian kuliner yang paling populer mulai dari India, China, Jepang hingga Asia Tenggara. Namun yang beken justru nasi goreng ala Indonesia. Nasi goreng di berbagai negara umumnya tercipta karena isinya yang sangat khas. Tapi nasi goreng ala Indonesia justru beken karena rempah-rempahnya.

Uniknya, tiap chef punya resep rempah-rempah yang khusus dan rahasia. Sehingga rasanya menjadi sangat istimewa dan sulit sekali ditiru. Rempah-rempah rahasia ini juga menjadi misteri dibanyak hidangan lain. Misalnya di soto Betawi, para penjual soto berlumba-lumba meracik sotonya dengan rempah-rempah rahasia. Inilah sentuhan ajaib mereka. Brand Experience yang sangat sulit ditiru.

Rempah-rempah Indonesia, tidak sekadar sebagai kekayaan nabati, tetapi juga kekayaan kearifan dan filosofis budaya. Misalnya saja di kitab Serat Centhini yang berkisah tentang catatan kraton Giri Kedaton di Gresik – Jawa Timur sekitar tahun 1630an, setidaknya memuat 3.000 resep rempah-rempah dan tumbuhan yang bermanfaat untuk pengobatan. Buku ini pun menjadi kompas pedoman industri jamu di Indonesia.

Menurut sebuah laporan Kementerian Perdagangan Indonesia tahun 2009 – industri Jamu di Indonesia memiliki potensi pasar sebesar Rp 6 triliun. Bayangkan kalau brand experience rempah-rempah ini digabungkan antara industri jamu dan kuliner Indonesia. Hasilnya pasti akan sangat luar biasa sekali.

Malah seorang teman bercerita, bahwa hutan belantara diberbagai pulau Indonesia masih banyak menyimpan misteri berbagai tumbuh-tumbuhan yang belum kita jadikan katalog sebagai tanaman rempah dan jamu. Ia memastikan, banyak tanaman-tanaman itu yang bisa dikomersialkan menjadi komoditi ekonomi dengan potensi tinggi. Indonesia masih merupakan sebuah misteri besar, di mana hutan dan alam Indonesia menyimpan berbagai rahasia yang menguntungkan umat manusia. Yang diperlukan adalah riset dan pengembangan yang bisa mengungkap rahasia kejayaan itu.

Perusahaan rempah McCormick, misalnya, setidaknya sudah menjual sekitar 75 rempah-rempah secara komersial. Namun jumlah ini sangat kecil sekali dibanding keberadaan rempah-rempah di alam. Jadi bisa Anda bayangkan, kompleksitas rasa dan aroma dari rempah-rempah ini. Dan itu adalah salah satu kekayaan dan keunikan yang bisa kita jadikan sebagai potensi daya saing Indonesia didunia global. Indonesia sebagai jalur rempah-rempah dunia. (ros/ riri novita)

Artikel ini dipublikasikan atas kerja sama antara Gayakumedia.com dan Sembutopia (Peka Consult.Inc)