Malikul Alam, Rintis Usaha Ternak Nila dari Tambak yang Terbengkalai

Malikul Alam, Rintis Usaha Ternak Nila dari Tambak yang Terbengkalai

05 Sep 2021
Inspirasi

Gayakumedia.com - Di lingkungan Pondok Pesantren, bagi sebagian masyarakat umum menilai bahwa santri sekadar menekuni ilmu keagamaan saja. Namun kini, kemandirian santri dalam menekuni bidang entrepreneurship, juga semakin ditonjolkan, sehingga mampu menepis anggapan seperti itu.

Demikianlah yang dilakukan oleh Malikul Alam (26), salah satu santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Manshuriyah Jalan Margosari No. 1, Tambak Dalam, Sawah Besar, Gayamsari, Kota Semarang yang menekuni usaha ternak ikan nila.

"Saya kira sudah banyak kok, pesantren yang santrinya dibekali ilmu pertanian, perkebunan, dan peternakan. Usaha ternak nila yang saya geluti ini, semoga bisa memotivasi santri-santri lain. Di samping mengaji agama, juga ngaji kehidupan, untuk bekal saat sudah terjun di masyarakat nanti," terangnya, Ahad (5/9/2021).

Bermula dari adanya tambak yang terbengkalai di dekat pesantrennya belajar, sehingga ia berniat memanfaatkannya untuk beternak ikan nila. Dan pada Juli 2021 tekad beternak nila semakin mantap, dengan membuat kolam apung (menggunakan jaring) berukuran 6 x 5 meter dan kedalaman 1 meter.

"Banyak warga sekitar yang memanfaatkan tambak untuk ternak ikan. Saya ikut mencoba saja. Tetapi belum bisa sebesar seperti yang lain. Saya masih menggunakan alat seadanya. Juli lalu saya menebar sebanyak 1400 bibit nila. Nila merah 400 ekor, dan nila hitam 1000-an ekor," tuturnya.

Selama dua bulan Malik menekuni ternak nila, ia mengaku kesulitan pada biaya pakan yang harus dikeluarkan. "Pakan sebanyak 30 kg, biasanya habis dalam waktu dua pekan. Semakin besar, otomatis pakannya juga tambah banyak. Bagaimana ya, kalau mau dikasih makan sedikit biar irit, nanti kan malah kasihan nilanya," ungkapnya.

Kendati demikian, ia tetap berusaha agar ternak nilanya tersebut bisa tetap berjalan. Bahkan dia berencana mengembangkan ternak nila tersebut supaya lebih besar. "Biasanya sering ada warga ke sini yang beli nila ke saya. Kebanyakan mereka beli kiloan. Sementara untuk rencana panen semua nila, itu nanti akhir tahun," jelasnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, meskipun usahanya baru rintisan, namun dirinya optimistis ke depan bisa berkembang. "Alhamdulillah, masalah waktu bisa diatur. Masih seimbang antara ngaji dan mengurus ikan. Hanya memberi pakan ikan pagi dan sore, jadi ngaji tidak terganggu,” katanya sembari berharap bisa memotivasi santri lain untuk berwirausaha. (iqbal/ zaim)