Menimbang Peran Sosial Mahasiswa

Menimbang Peran Sosial Mahasiswa

02 Apr 2021
Opini

Oleh: Mochammad Ariq Ajaba

Dalam struktur pendidikan di Indonesia, seorang mahasiswa –yang belajar di perguruan tinggi- dinilai memiliki status tertinggi, yang ditunggu peran atau kontribusinya dalam kehidupan sosial.

Status itu dilabelkan, lantaran ia tidak sekadar mempelajari bidang keilmuan tertentu yang dipelajari, tetapi juga diharapkan mampu menerapkan, menginovasi, dan mengembangkannya.

Mengutip Jean Marais dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bahwa “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.”

Hal itu selaras dengan peran mahasiswa sebagai agen of social control (pengontrol kehidupan sosial di kehidupan masyarakat).

Dengan perannya itu, mahasiswa dituntut untuk mampu menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah dengan sepenuh hati di lingkungan kampus dan masyarakat.

Salah satu wujud nyata peran mahasiswa yang bisa diberikan untuk masyarakat dan bangsa, antara lain dalam hal mengawal jalannya proses politik di Indonesia baik elemen pemerintah dan masyarakat.

Peran minimal mahasiswa yang bisa diambil dalam konteks itu, yaitu dengan ikut mengubah pola pikir masyarakat yang dirasa tidak benar namun membudaya. Seperti menganjurkan untuk tidak terjerumus dalam praktik politik uang dan tidak informasi hoaks.

Untuk itu, seorang mahasiswa harus melek politik. Dengan begitu, dia memiliki acuan dasar atau langkah awal dalam proses merubah, mengurangi bentuk perilaku masyarakat agar tidak terjerumus dalam praktik politik uang dan tidak menyebarkan informasi hoaks.

Dan hal yang bisa dilakukan, yakni dengan ikut mengedukasi masyarakat sekitar, agar masyarakat tidak terjerumus dalam praktik politik uang, dan juga tidak ikut tejerumus menyebarkan informasi hoakhs.

Tentu, peran-peran mahasiswa tidak cukup di situ. Tetapi peran yang diambil diharapkan lebih besar lagi, yakni dalam upaya melakukan pemberdayaan masyarakat. (*)

Mochammad Ariq Ajaba,

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pemikiran Politik Islam (Prodi PPI) IAIN Kudus