Menjaga Lisan (Bagian 1)

Menjaga Lisan (Bagian 1)

16 Apr 2021
Kalam

Gayakumedia.com - Mahasuci Allah yang telah mengaruniakan lidah kepada kita, sehingga bisa merasakan nikmatnya berbicara.

Pernahkah kita bayangkan, bagaimana seandainya kita tidak memiliki lidah?

Andai kita tak memiliki lidak, berbicara kepada anak-anak yang kita cintai, kepada pasangan, kepada orang tua, bisa mengajar, membaca al-Quran, menyapa tetangga, berteriak kala ada bahaya, atau sekadar mengucapkan selamat kepada yang tengah berbahagia, adalah mimpi yang tak mungkin terealisasi.

Maka, punya lidah adalah nikmat. Bisa berbicara adalah karunia yang tiada ternilai harganya.

Pertanyaannya kemudian, pernahkah kita menafakuri itu semua, untuk kemudian mensyukurinya?

Ya. Sesekali, luangkanlah waktu untuk memikirkan, betapa dahsyat dan melimpahnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Tidak usah jauh-jauh. Kita bisa melihat pada tubuh. Ada panca indera. Tangan. Kaki. Serta semua organ yang tak terlihat di dalam tubuh.

Tafakuri itu semua, termasuk betapa hebatnya karunia Allah berupa lidah (lisan). Dengan memikirkan (merenungkan) karunia tersebut, kita akan segera menyadari kebesaran dan kasih sayang-Nya. Dari sinilah, akan lahir rasa syukur atas karunia itu.

Saudaraku, lisan adalah amanah dari Allah Ta’ala. Dan, yang namanya amanah, dia wajib untuk dijaga sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Amanah. Maka, pastikan jangan sampai kita berkata-kata kecuali apa yang kita ucapkan bermanfaat, terlebih saat Ramadan seperti sekarang.

Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah bersabda: “Barang siapa beriman kepada AlIah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: “Tidak akan lurus iman seseorang sebelum lurus hatinya, dan tidak akan lurus hati seseorang sebelum lurus lidahnya. Dan tidak pernah masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lidahnya.”

Berkaca dari hadis di atas, sesungguhnya orang yang lidahnya senang mengganggu tetangganya diharamkan masuk surga.

Dikisahkan, suatu hari Rasulullah pernah mendapatkan laporan perihal seorang perempuan yang sangat rajin berpuasa dan bertahajjud, akan tetapi perempuan ini sering menyakiti hati tetangganya dengan lidahnya. Rasulullah pun mengatakan: “Dia berada di neraka.”

Dengan bahasa sederhana bisa dipahami, bahwa selain memastikan apa yang kita ucapkan penuh manfaat, juga harus membawa kebaikan. (zaim, ditulis dari berbagai sumber)