Menyikapi Perbedaan Awal Rajab 1443 H

Menyikapi Perbedaan Awal Rajab 1443 H

02 Feb 2022
Opini

Oleh: M. Husaini Nurdin

 

Umat Islam di tanah air, hari – hari ini “terpecah” dalam hal awal Rajab 1443 H. Satu kelompok meyakini dan mengikuti bahwa awal Rajab adalah Rabu (2/2/2022), tetapi sebagian yang lain meyakini awal Rajab yaitu Kamis (3/2/2022).

Yang menetapkan Rabu ini masuk awal Rajab yaitu Muhammadiyah berdasarkan hisab wujudul hilal terhitung sejak malam Rabu. Persatuan Islam (Persis) menetapkan awal Rajab Kamis besok, begitu pun dengan Nahdlatul Ulama (NU).

NU melalui Lembaga Falakiyah (LF) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan awal Rajab Kamis besok, dengan dasar bahwa pada Selasa (1/2/2022) saat melakukan rukyatul hilal (pengamatan bulan), tidak ada yang berhasil melihat hilal.

Ada sebanyak 22 titik lokasi pengamatan di delapan provinsi yang ada di Indonesia, tidak dapat melihat hilal. Antara lain Kudus (LFNU/ Ma’had Aly TBS Kudus), Condrodipo (Gresik), Bondowoso, Semarang, Sampang (Madura), Makassar, Mataram, Pancur (Banyuwangi), Jakarta Barat, Ponorogo, dan Aceh.

Pertanyaannya kemudian, manakah yang benar untuk diikuti?

Merespons hal tersebut, sebenarnya bukan benar atau salah yang perlu dikemukakan. Namun ada pertanyaan lain yang lebih penting untuk diajukan, yakni bagaimana kita mesti bersikap terhadap perbedaan yang ada?

Perlu dipahami, bahwa perbedaan penentuan awal Rajab ini, adalah karena adanya perbedaan metodologi dalam proses penentuannya. Maka, sangat dimungkinkan hasilnya pun berbeda.

Maka yang menarik dikemukakan adalah, mestinya dalam menyikapi perbedaan itu, bahwa masing – masing tidak boleh merasa yang paling benar. Sebab, masing – masing dengan hasil penentuan itu, adalah bagian dari ijtihad.

Dengan bahasa lain, sikap yang harus dikedepankan dalam menyikapi hal ini adalah, bahwa masing – masing bisa jadi benar, sesuai dengan proses dan metodologinya yang dipakai. Tetapi yang harus ditekankan, jangan merasa paling benar.

Melalui sikap seperti inilah, maka masing – masing kelompok tidak menyalahkan antara satu dengan lainnya. Tetapi tetap menghormati satu sama lain, dengan hasil ijtihad yang telah dilakukan. Wallahu a’lam. (*)

M. Husaini Nurdin

Penulis adalah warga Sialang Panjang, Tembilahan Hulu, Indragiri Hilir, Riau dan mahasantri pada Ma’had Aly TBS Kudus penerima Program Beasiswa Cendekia Baznas RI.