Perihal Kamu dan Kenangannya

Perihal Kamu dan Kenangannya

03 Nov 2021
Cerpen

Cerpen: Amin Fauzi

Sore itu, sang surya perlahan menuju peraduan. Senja menuju cakrawala kelam. Berduyun-duyun burung terbang menuju pepohonan.

Di pojok kafe terbuka itu, masih lekat dalam ingatan, tepatnya di meja nomor 15. Kamu duduk mengarah ke barat menghadapku. Seperti biasanya, kamu menyukai saat-saat matahari terbenam, sehingga kamu selalu memilih kursi yang menghadap ke barat. “Memandang senja dan wajahmu adalah perpaduan yang indah,” tuturmu merayu.

Masih lekat pula dalam ingatan. Bagaimana kamu menyunggingkan senyum, bagaimana kamu bertutur, dan bagaimana matamu menatap. Pada senja itu, usai menyeruput lemon tea hangat  kamu mengatakan,  jarak bukan persoalan perbedaan ruang dan waktu, tapi oleh emosi. 

“Walaupun terpisahkan oleh pulau, kalau ikatan perasaan itu kuat, ya serasa dekat. Sebaliknya, walaupun tinggal dalam satu ruangan, kalau tidak ada hubungan ya serasa jauh,” tuturmu sembari menatapku. Seolah meminta untuk segera diiyakan. 

Aku mengangguk. Sempat aku mengamini pernyataanmu itu. Dan nampaknya tidak ada persoalan yang berarti. Aku merasa ikatan batin kita terasa kuat.

Dengan begitu, lanjutmu sembari memeluk lutut, sesekali--intonasi suaramu mulai pelan-pelan-- seyogyanya kita perlu membuat jarak, sebagaimana spasi pada senarai kata, seindah apapun huruf terukir tak akan bermakna bila tanpa jarak. 

“Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik,” katamu menirukan quote dari bukunya Dee Lestari, Filosofi Kopi.

Setelah  kau mengatakan itu, air mukamu berubah. Kamu lebih banyak merunduk. Aku menduga ada sesuatu yang aneh dan ganjil. Tidak seperti biasanya. Benar adanya. Kamu pamit. Kamu meminta agar kita tidak bertemu dulu untuk semantara waktu.  Katamu, kelak kalau bertemu bisa sama-sama memanen rindu. “Dan rindu lahir karena ada jarak khan?”  tanyamu beretorika.

Dan seperti biasanya, aku selalu mengiyakan apa yang kamu kehendaki. Demi kebebasanmu, demi kebahagiaanmu.

Namun, seusai pertemuan itu, kamu menghilang tanpa kabar. Nomor ponselmu tidak aktif. Pun dengan media sosialmu. Kamu meninggalkan misteri. Di pertemuan terakhir kau membumbungkan harapan. Tapi justru yang kau tebar ketidakpastian; entah kapan musti mewujudkan temu, entah kapan menuai rindu. Sahabat-sahabat karibmu juga tidak mengetahui keberadaanmu.

***

Tiga purnama setelah pertemuan itu, aku mencoba melupakan semua tentangmu. Tapi usaha melupakan justru upaya mengingat secara efektif.  Semua tentang dirimu masih melekat erat dalam pikiran. Pun dalam perasaan.

Pada malam kalut itu, tepatnya pukul 22.00 WIB, saat aku mulai bersiap tidur, ponselku berdering. Sebuah nomor asing. Tanpa nama. Setelah aku angkat, ucapan salam yang tak asing bagi telingaku. Ya. suaramu. Benar,  suaramu. Jantung ini berdebar kencang. Entah girang entah gamang.

Setelah menanyakan kabar, kamu tidak menjelaskan mengapa selama ini menghilang. Kamu justu pamit. Pamit yang sesungguhnya. “Aku dijodohkan sama orang tuaku Mas, lebih baik kita berpisah saja ya mas,  aku mohon beribu-ribu maaf, aku berharap kamu baik-baik saja, kamu laki-laki kuat Mas, ” tuturmu lirih. Tidak lama. Kamu langsung mengucap salam dan menutup telepon. 

Malam itu, malam serasa lebih panjang. Kata-katamu berkecamuk dalam pikiran dan perasaaan. Ribuan pertanyaan hinggap dalam pikiran; Mengapa aku tidak diberi kesempatan bicara? Mengapa kamu menghilang begitu saja? Mengapa kamu mau saja dijodohkan? Apakah kamu sudah tidak nyaman denganku? Dan senarai pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hanya gelap dan air mata yang ada.

Dan hari-hari setelahnya, entahlah. Hanya kubangan kenangan demi kenangan yang membayang.

Aku pernah dengar kata orang, bahwa kenangan seperti serdadu yang begitu saja memberondong peluru di ulu hati. Memorakporandakan tatanan perasaan yang mapan.

Hadirnya kadang pelan-pelan, namun tak jarang ugal-ugalan mengkoyak pikiran.  Kenangan itu muncul di tempat-tempat saat kita pernah bersama. Terkadang pada sebuah taman di mana kita pernah menghabiskan senja bersama, di sebuah kafe tempat kita bertukar rasa, atau saat melintas di depan halte tempat menunggu bus saat kita hendak bersama. 

Kadang-kadang begitu lekat dalam ingatan; bagaimana kamu bertutur, menyunggingkan senyum,  mengerdipkan mata, tertawa, atau saat meneteskan air mata. Masih sangat jelas dalam ingatan.

Entah mengapa kenangan itu sulit sirna, jangan-jangan perasaan itu masih ada. Toh kita sudah mengucap perpisahan khan. Berpisah dengan baik-baik. Ya, dengan baik-baik. Tapi kamu tahu khan, baik-baik dalam ucapan belum tentu di perasaan.  Tetap saja mengalami situasi rapuh dan tak berdaya.

Debar itu timbul bukan hanya saat dalam kesendirian atau kesunyian, tapi juga dalam keramaian.

Padahal, sebelum aku mengenalmu, aku tidak pernah sekalipun mengalami situasi seperti ini. Apa karena aku gemini paripurna; tipologi orang yang keras kepala dalam mencintai seseorang, yang menjadikan orang yang dicintainya itu sebagai pusat jagad raya, yang rela jatuh bangun demi kekasihnya. 

Entahlah. Perasaan itu datang juga dengan tiba-tiba. Prosesnya ajaib. Dan entah mengapa harus kamu. Kita tidak bisa memprediksi sebuah perasaan; kita juga tak tahu kepada siapa akan suka kepada seseorang. Kadang ia bisa jadi hal yang benar-benar tak masuk akal. Seperti menyintai orang yang tak pernah ditemui, atau bahkan jatuh cinta pada orang yang menyakitimu. Cinta memang menjadi misteri kehidupan.

Kata orang-orang, mencintai itu bukan kata benda, tapi kata kerja. Tidak melulu harus berbalas. Tetapi apa iya; kita bisa tetap mencintai seseorang meski tak lagi bicara padanya, kita bisa tetap menyintai seseorang meski tidak pernah bertemu dengannya, kita tetap bisa menyintai seseorang meski dilukai, meski ditolak, meski dibiarkan sendiri.

Walaupun aku tidak mengamini itu semua, entah mengapa, kenangan dan perasaan itu acap hadir dan mengada. Dengan tiba-tiba.

Pun demikian, kadang-kadang aku juga berharap, kelak bisa menyadari bahwa yang aku lakukan adalah kebodohan, sehingga akan menjadi lebih baik setelahnya. 

Tidaklah mengapa kamu tidak bisa menerima keberadaanku. Saya kira kita juga paham, cinta tidak harus bersama. Dan berpisah tidak harus membenci. Kita bukan kerabat, bukan sahabat, hanya dua orang asing yang pernah dekat. Dan kini tak lagi punya cerita baru untuk dibangun bersama. (*)

Rembang, pada sore yang gerimis.

2 November 2021

Amin Fauzi,

Adalah mantan jurnalis salah satu koran Nasional. Suka menulis puisi dan cerpen. Kini, ia menjadi Komisioner pada Bawaslu Kabupaten Rembang.