Puisi – puisi Dary Zaulchanif Ihsan

Puisi – puisi Dary Zaulchanif Ihsan

15 Mar 2021
Puisi

I. Ketika Darah Rasulullah Menetes

 

Saat Rasulullah terluka

Gigi geraham Baginda Rasulullah patah

bibir bawahnya sobek

Dahi dan keningnya yang mulia

juga bercucuran darah

 

Rasulullah tak henti

menadahi tetesan darah itu

dan mengusapkan ke dada

agar jangan menetes ke tanah

meski dalam keadaan genting sekalipun

 

Setelah perang mereda

seorang Sahabat memberanikan diri bertanya

perihal perilaku Baginda Rasulullah

Dengan lembut Rasulullah menjawab:

Aku mendengar apa yang tak kalian dengar

Malaikat penjaga gunung berkata:

kalau ada setetes darahku menyentuh bumi,

maka Allah akan menurunkan adzab dari langit

kepada mereka yang memerangiku

 

"Mengapa engkau tak mendoakan

para musuh Allah itu supaya celaka?" tanya Sahabat

Rasulullah kembali menjawab:

Sungguh aku tak diutus untuk melaknat

tetapi berdakwah dan menyebarkan

rahmat kepada semesta

 

 

II. Puisi Cinta

 

Aku tidak bisa marah

karena bagiku kau adalah anugerah terindah

yang mendekap barisan hariku penuh bahagia tumpah ruah

 

Sepotong senyum yang kau titipkan pada arakan senja

menghapus kesalku jadi tawa merekah

dan rinduku tetiba dipenuhi

keindahan berlimpah

 

Inikah sebuah pertanda?

Pertama kali tatapanku bergulir nyata pada bening matamu

memasung bahagiaku tanpa ampun

tak peduli seberapa lemah getar menyisir kalam batinku

Aku hanya tahu

; ada rindu yang kujaga untukmu

 

Mengenalmu adalah anugerah

Menyakitimu adalah terlarang

Pertemuan menjadi kebahagiaan

 

Kamu itu majas

terlihat rumit dan lain

tapi penuh keindahan

 

Kamu sangat populer di kepalaku

Bahkan saat aku tidur

kepalaku tetap disibukkan olehmu

; selalu singgah dalam mimpiku

 

 

III. Ambisi Bumi

 

Langit tak perlu jadi mimpi

jika ingin jiwamu sehat

dan pikirmu tenang

 

Berjalanlah bagaikan air menuju lautan

telaga ataupun kering di telan bumi menyuburkan tanaman

kering diserap matahari menjadi hujan.

 

Segala kekuatan pada manusia terbatas

ikhtiar tetap tanpa henti

meski tetap mengukur diri dan mensyukuri

 

Jangan memaksa kuat jika engkau lemah

jangan memaksa tinggi jika engkau rendah

; itu akan menjadi beban bagimu

 

Segala yang memaksa akan menyiksa

menderita

dan terpenjara

=======================

Dary Zaulchanif Ihsan, adalah penulisa kelahiran Temanggung pada 12 Februari 1998. Saat ini, ia masih nyantri di Kudus dan mendalami Ilmu Falak di Ma'had Aly Taswiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus. Untuk mengenal penulis lebih jauh, silakan hubungi penulis melalui email: @daryzulhanif@gmail.com. (*)