Ramadan, Islam dan Literasi

Ramadan, Islam dan Literasi

20 Apr 2021
Kalam

Gayakumedia.com – Perkembangan literasi, sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia. Berkat perkembangan literasi lah, peradaban kian maju dan modern dari waktu ke waktu.

Bagaimana literasi dalam Islam? Apakah Islam memiliki perhatian khusus dalam hal literasi?

Menjawab pertanyaan itu, tak bisa dibantah, bahwa Islam sangat menaruh perhatian besar terhadap tradisi literasi. Itu terbukti dengan wahyu yang pertama kali diterima Rasullullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril pada malam 17 Ramadan, adalah Iqra’, yang berarti “bacalah”. Maka malam 17 Ramadan tidak sekadar menjadi hari yang sangat bersejarah bagi umat Islam; turunnya wahyu di bulan suci, tetapi juga mengingatkan akan pentingnya literasi.

Membaca, adalah satu bagian dari budaya literasi yang sangat penting. Dengan membaca, seseorang akan mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan, yang sangat penting bagi kehidupan. Ramadan menjadi saksi perintah Tuhan (Allah) kepada umat untuk “membaca”.

Maka 17 Ramadan, sebenarnya bisa dikatakan sebagai “Hari Literasi Islam”, jika berkaca dari ayat al-Quran yang pertama kali diturunkan, yaitu Iqra’. Dan pentingnya literasi bagi umat Islam dari waktu ke waktu, karenanya, harus selalu ditanamkan.

Ali Romdhoni (2013), dalam “Al-Quran dan Literasi: Sejarah Rancang Bangun Ilmu-ilmu Keislaman” menjelaskan, bahwa kebudayaan baca – tulis (literasi) menempati posisi yang menentukan dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan Islam.

Dia menjelaskan, tradisi literasi pula yang mengantarkan Islam di berbagai wilayah di dunia Islam -mulai dari Arab, Spanyol hingga India- dikenal sebagai agama yang cinta ilmu pengetahuan.

“Bermula dari tradisi baca tulis, kelak Islam menghasilkan beribu-ribu dan bahkan miliaran jilid buku ilmu pengetahuan, dan mewariskan beragam bangunan yang agung dan tak ternilai harganya,” jelas Ali Romdhoni dalam bukunya itu. (ros/ zaim)