Ki Ageng Pandanaran, Penyebar Islam dan Pendiri Kota Semarang

Ki Ageng Pandanaran, Penyebar Islam dan Pendiri Kota Semarang

01 May 2021
Profil Tokoh
Kompleks makam Ki Ageng Pandanaran di Kota Semarang

 

Gayakumedia.com – Membincang dan menilik sejarah Kota Semarang, tentu tidak akan bisa terlepas dari sosok Ki Ageng Pandanaran. Pasalnya, selain sebagai penyebar Islam di Kota Semarang, Ki Ageng Pandanaran juga pendiri sekaligus Bupati pertama Kota Semarang.

Makam Ki Ageng Pandanaran yang merupakan murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga itu, berada di Jalan Mugas Dalam II, Nomor 4, RT 7 RW III, Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Agus Krisdiyono (53), juru kunci makam, menjelaskan, perjuangan Ki Ageng Pandanaran dimulai ketika ditugaskan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah di area Desa Tirang.

"Nama Desa Tirang diambil dari keadaan wilayah Semarang saat itu, yang banyak karang-karangnya. Hal itu menjadi penanda bahwa dulunya Kota Semarang ini adalah lautan," jelasnya, Sabtu (1/05/2021).

Sebelum Ki Ageng Pandanaran datang, kata Agus, sebenarnya Islam sudah berkembang di Semarang, yakni sejak Laksamana Cheng Ho mendarat di Pantai Simongan, Semarang, pada 1405 M. Namun satu abad kemudian, kiai dan masyarakat yang dibina Cheng Ho telah banyak yang meninggal dunia.

"Hingga akhirnya, banyak penduduk yang kembali memeluk Hindu. Untuk itulah, Ki Ageng Pandanaran ditugaskan (oleh Kanjeng Sunan Kalijaga) berdakwah ke Semarang untuk menyebarkan Islam kembali," terangnya.

Agus mengutarakan, saat pertama kali Ki Ageng Pandanaran datang, Desa Tirang sudah dikuasai oleh seorang pendeta yang bernama Pragota. Kemudian sang pendeta tersebut mengadakan sebuah sayembara.

"Sayembaranya yaitu, siapa saja yang bisa mengalahkan ilmu kadigdayan Pendeta Pragota, akan dinikahkan dengan putrinya. Ki Ageng Pandanaran mengikuti sayembara dan menang," terang Agus yang sudah tujuh tahun menggantikan bapaknya menjadi juru kunci makam.

Dikisahkan kemudian, bahwa akhirnya Ki Ageng Pandanaran mempersunting Sentile, puteri dari Pendeta Pragota, untuk menjadi istrinya, dan mengajaknya memeluk Islam (mualaf). Selanjutnya, setelah memeluk Islam, namanya berganti menjadi, Nyi Ageng Pandanaran I Endang Sejanila (Siti Fatimah).

Ki Ageng Pandanaran dan Nyi Ageng Pandaran pun menyebarkan Islam bersama. Dari waktu ke waktu, masyarakat yang memeluk Islam semakin banyak dan wilayah makin luas. Hingga dicetuskan lah nama Semarang.

Mengutip sejarah yang dihimpun dari Yayasan Sosial Sunan Pandanaran Semarang, sebagai pengelola Makam Ki Ageng Pandanaran, nama Semarang berasal dari ujaran beliau ketika dakwah di daerah Bubakan. Ia melihat tanah yang jarang ada pohon asamnya (asem arang-arang). Maka oleh masyarakat kemudian dinamakan Semarang.

Untuk diketahui, Ki Ageng Pandanaran merupakan cucu dari Pangeran Sabrang Lor (Sultan Syah Ngalam Akbar Bintoro II), anak tertua Raden Patah. Ayah Ki Ageng Pandanaran adalah Pangeran Madiyo Pandan Maulana Ibnu Abdul Salam.

Dari pernikahannya dengan Nyai Ageng Pandanaran, Ki Ageng Pandanaran dikaruniai enam orang anak. Yaitu Pangeran Kasepuhan (Pandanaran II/ Sunan Tembayat) dimakamkan di Bayat; Pangeran Kanoman I (Pandanaran III/ Pangeran Mangkubumi) dimakamkan di Imogiri; Nyi Ngilir (Nyai Arang) dimakamkan di Mugas Atas Semarang; Pangeran Wotgalih (dimakamkan di Imogiri); Pangeran Bojong (dimakamkan di Semarang) dan Pangeran Sumedi (dimakamkan di Tembayat).

Sementara itu, perihal hari dan tanggal kelahiran serta wafatnya Ki Ageng Pandanaran, hingga kini belum ada data yang pasti untuk digunakan sebagai referensi. (iqbal/ ros, zaim)